Foto: thinkstockUthuleka, Afrika Selatan, Kasus HIV di Afrika merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Berbagai cara pun dicoba dilakukan untuk menurunkannya. Salah satunya yaitu dengan menyekolahkan para gadis di sana ke jenjang setinggi-tingginya.
Setidaknya inilah yang dilakukan seorang wali kota di sebuah distrik berjulukan Uthuleka, Provinsi Kwazulu-Natal, Afrika Selatan. Mulai tahun ini sang wali kota, Dudu Mazibuko berjanji akan menawarkan beasiswa penuh kepada 113 gadis potensial di wilayahnya untuk menerima pendidikan tinggi.
Menariknya, ada 16 sampaumur yang mendapat beasiswa khusus yang disebut Maiden's Bursary Awards. Bagi ke-16 gadis ini, demi memperoleh beasiswa tersebut, mereka harus mematuhi satu syarat, yaitu bersedia menjaga keperawanannya selama menempuh studi.
Bahkan untuk memastikan mereka tetap virgin, gadis-gadis ini juga diminta menjalani tes keperawanan secara rutin. Mereka juga harus ambil bab dalam sebuah ritual tahunan di suku Zulu yang berfungsi sebagai semacam tes keperawanan tradisional.
Baca juga: Inspiratif! Kaum Muda di Bengkulu Kampanyekan 'Stop Bertanya Kapan Nikah'
Dudu menambahkan, beasiswa ini ditujukan kepada gadis-gadis muda alasannya yaitu kerentanan mereka terhadap eksploitasi dari lingkungannya, kehamilan dini, sampai penyakit menular seksual.
Fakta ini dibuktikan dengan data dari Departemen Pendidikan Dasar Afrika Selatan yang mencatat 20.000 kehamilan terjadi pada gadis di usia sekolah sepanjang tahun 2014. 223 di antaranya bahkan dialami bocah yang masih duduk di kursi sekolah dasar.
Dudu berharap dengan adanya beasiswa ini, para gadis muda di Afrika Selatan mampu menjaga keperawanannya sekaligus mengurangi jumlah kasus HIV/AIDS, termasuk kehamilan yang tak diinginkan (KTD) yang sangat tinggi di wilayah mereka.
Kebetulan Kwazulu-Natal merupakan salah satu provinsi dengan jumlah kasus HIV tertinggi di Afrika Selatan. Sedangkan Afrika Selatan sendiri telah mendapat predikat sebagai negara dengan jumlah pengidap HIV terbanyak di dunia, yaitu mencapai 6,3 juta jiwa.
"Bagi kami, ini hanyalah ungkapan terima kasih alasannya yaitu mereka telah menjaga diri mereka," kata Dudu dalam sebuah program bincang-bincang di sebuah stasiun radio.
Baca juga: Perlukah Papsmear Dilakukan Bagi Wanita yang Masih Perawan?
Meski begitu, doktrin baik Dudu nyatanya mengakibatkan kritikan dari sejumlah kelompok HAM maupun pendukung persamaan gender. Menurut mereka, beasiswa ini justru memperlihatkan diskriminasi yang kasatmata terhadap anak perempuan alasannya yaitu menutup peluang mereka untuk memperoleh kesempatan yang sama.
"Lagipula tes keperawanan tidak akan membantu menghentikan penyebaran HIV dan AIDS," tegas Idumeleng Muloko dari People Opposing Women Abuse (Powa) Afrika Selatan, kepada BBC dan dikutip Selasa (26/1/2016).
Komentar
Posting Komentar