Pendidikan Seks yang Minim, Salah Satu Sebab Tingginya Angka Kematian Ibu

Pendidikan Seks yang Minim, Salah Satu Sebab Tingginya Angka Kematian IbuFoto: Thinkstock

Jakarta, Menurut pengamat kesehatan seksual dr Boyke Dian Nugraha, SpOG, masih minimnya pendidikan seks yang diberikan di dalam masyarakat Indonesia turut berkontribusi terhadap tingginya angka janjkematian ibu (AKI) dan penyebaran human immunodefeciency virus (HIV).

Seperti yang ditemukan oleh Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 yang menyebut bahwa AKI di Indonesia masih tinggi di tingkat 359 per 100 ribu kelahiran sementara target seharusnya untuk Millenium Development Goals (MDG's) angka tersebut berada di tingkat 102 per 100 ribu kelahiran hidup. Menurut dr Boyke hal ini sebab para ibu tersebut semenjak kecil tak menerima pendidikan seksual yang baik.

Pengetahuan reproduksi kebanyakan diperoleh dari sumber-sumber tak terpercaya dan semakin membesarkan mitos sesat. Pada jadinya mereka pun terlibat dengan acara seksual yang berisiko.

"Angka janjkematian ibu kita kan nggak turun-turun sebab kurang mendapat pendidikan seks. Angka janjkematian ibu itu disumbang oleh pengguguran yang cukup tinggi sudah 2,3 juta menjelang ke angka 3 juta per tahun sebab ibu-ibu hamil pada datangnya ke dukun," kata dr Boyke dikala melaunching bukunya yang berjudul 'Adik Bayi Datang dari Mana' di hotel Gran Mahakam, Jakarta, Selasa (19/4/2016).

Baca juga: Studi: Orang Tua Bicara Seks pada Remaja, Perilaku Berisiko Berkurang

Anggapan tabunya membicarakan seks di masyarakat menjadi dilema utama yang dikatakan dr Boyke kerap menghalangi upaya sosialisasi pendidikan seks usia dini. Padahal nyatanya semenjak anak menginjak taman kanak-kanak (TK) orang renta sudah harus mulai mengenalkan pendidikan seks yang sesuai.

Orang renta menjadi sosok yang ideal untuk menawarkan pendidikan seks sebab ayah atau ibu yakni panutan anak. Untuk anak perempuan maka ibu yang harus lebih berperan sementara untuk anak laki-laki maka ayahlah yang harus lebih berperan.

dr Boyke mencontohkan misalnya saja mengajarkan bagaimana sebaiknya menyentuh kelamin, siapa saja yang boleh memegang anggota badan, dan bagaimana seharusnya kontak fisik dilakukan dengan orang lain. Orang renta tak perlu aib dan segan membicarakan dilema tersebut dengan anak.

"Nggak perlu takut ngasih 'ilmu' kelebihan ke anak. Nggak ada yang namanya kelebihan ilmu. Malah jikalau orang renta ngomongnya jujur pake bahasa penis atau vagina bukan burung atau dompet, anak malah akan lebih percaya pada orang tuanya," kata dr Boyke.

"Mudah-mudahannya masyarakat kita ke depan semakin terbuka biar ayah dan ibu tidak aib lagi membicarakan seks dengan anak," pungkas dr Boyke.

Baca juga: Balita Mulai Coba Menyentuh Alat Kelaminnya? Tak Perlu Panik, Itu Normal

Komentar