Foto: thinkstockJakarta, Setelah proses perceraian, tibalah waktu membagi peran dalam mengasuh anak. Beberapa orang renta sering melaksanakan kesalahan dalam membagi waktunya.
"Harus adanya pembagian yang cukup adil antara ayah dan ibu. Misalnya, sebulan di rumah bapaknya kemudian sebulan di daerah ibunya," kata Kristi Poerwandari, hebat psikologi Klinis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ketika ditemui dalam program dalam Diskusi: Bagaimana Menjelaskan Perceraian pada Anak, di gedung Komnas Perempuan, Menteng, Jakarta Pusat.
Menurut Kristi, pembagian tersebut merupakan cara biar anak tidak membuat fatwa negatif atau tidak pada salah satu orang tua. Misalnya, anak berpikir kalau ibunya suka marah-marah di rumah dan ayah yang selalu menuruti impian anak ketika bertemu.
Baca juga: Susah Tidur Jangan Buru-buru Minum Obat, Coba Dulu 5 Cara Ini
"Artinya harus ada kerja sama antara mantan suami dan istri untuk memaksimalkan situasi anak biar tetap berpikir konkret perihal orang tuanya," lanjut Kristi.
Hal senada juga dituturkan oleh Denia Putri Prameswari, praktisi pendidikan anak usia dini. Menurut Denia, komunikasi yang baik dengan sang anak diharapkan setelah terjadinya perceraian.
"Anak-anak mengingat yang signifikan saja, kalau sehari-hari biasanya tidak terlalu diingat. Misalnya, ibu yang memasak makanan kesukaan enggak terlalu diperhatikan oleh anak tetapi bila ayah mengajak ke Bali akan diingat oleh anak," lanjut Denia ketika ditemui dalam program yang sama.
Menurut Denia, komunikasi dapat menjadi cara biar anak mengetahui bentuk-bentuk perhatian kecil sebagai tanda bentuk kasih sayang orang tua.
"Lebih penanaman komunikasi pada anak bahwa bentuk kecil juga sebagai bukti bahwa kedua orang renta sama-sama sayang dan tetap mengurus anaknya," tutup Denia.
Baca juga: Ini Dampak Psikologis yang Dialami Anak Saat Orang Tua Bercerai
Komentar
Posting Komentar