Mencetak Anak Cerdas Itu Bukan dengan Buru-buru Mengajarkan Calistung

Mencetak Anak Cerdas Itu Bukan dengan Buru-buru Mengajarkan CalistungFoto: thinkstock

Jakarta, Orang renta terkadang merasa besar hati bila anaknya yang masih berusia balita ataupun batita sudah bersekolah. Kebanggaan makin membuncah ketika si balita sibuk mencar ilmu membaca dan berhitung (calistung). Nah, apakah buru-buru menyekolahkan anak sehingga anak lebih cepat mencar ilmu calistung merupakan langkah sempurna 'mencetak' anak yang cerdas?

"Kalau perkembangannya normal, mungkin tidak besar lengan berkuasa negatif. Tetapi, kalau ada keterlambatan dan terus dipaksakan dikala umur 4 atau 5 tahun terang besar lengan berkuasa negatif pada anak," kata Dr dr Ahmad Suryawan SpA(K) dari RSUD Soetomo Surabaya.

Kegiatan membaca, menulis dan menghitung pada anak usia 6 tahun harus diberikan secara selektif dan tidak mampu diberikan kepada semua anak. Sehingga, cara tersebut tidak menjadi alat evaluasi kemajuan anak yang berumur di bawah 6 tahun.

Baca juga: Pesan Psikolog Jika Ortu Hendak Masukkan Anak ke Preschool

"Secara umum, aktivitas membaca, menulis dan menghitung dilakukan pada anak usia 6 tahun ke atas. Untuk 6 tahun ke bawah diajarkan untuk membina perilaku dan lingkungan mereka menyerupai di Jepang," lanjut dokter yang bersahabat disapa dr Wawan dikala berbincang dengang detikHealth beberapa waktu lalu.

Sebenarnya tidak apa-apa memasukkan anak ke sekolah semenjak dini. Tapi perlu dilihat juga, apa yang diajarkan pada anak. Ini untuk memastikan bawah umur tidak 'dipaksa' mencar ilmu membaca, menulis dan berhitung sebelum usianya.

Di Jepang, bawah umur prasekolah dan taman kanak-kanak (TK) memang tidak diajarkan untuk menulis, membaca ataupun menghitung. Namun, mereka lebih diajarkan untuk membina kekerabatan dengan orang lain serta lingkungan sekitarnya.

"Sudah jelas, cara itu menjadi brand development yang yang benar sebab masa itu masa di mana beliau bukan mengerjakan sesuatu rumit yang dilakukan usia 6 tahun ke atas. Untuk struktur otaknya juga belum hingga ke situ," tutur dr Wawan.

Baca juga: Peran PAUD untuk Kesehatan Anak: Ajarkan Pola Makan Sehat

dr Wawan menyayangkan bila ada TK ataupun pendidikan anak usia dini (PAUD) yang sudah mengajarkan baca tulis dan hitung pada anak-anak. dr Wawan juga menyayangkan beberapa sekolah dasar (SD) yang memberi persyaratan pada calon siswanya untuk sudah mampu membaca dan menulis. Inilah yang kemudian memunculkan TK ataupun PAUD yang mengajarkan baca tulis hitung.

Kendati demikian, menurut dr Wawan, dikala ini mulai bermunculan prasekolah dan TK yang lebih mengajarkan cara membina kekerabatan dengan orang lain dan lingkungan. Karena itu, sebelum memasukkan anak ke sekolah, carilah informasi sebanyak-banyaknya terkait kurikulum dan bahan ajarnya.

Komentar