Psikolog Ungkap Bahayanya Menjelek-jelekkan Mantan Pasangan di Depan Anak

Psikolog Ungkap Bahayanya Menjelek-jelekkan Mantan Pasangan di Depan AnakFoto: thinkstock

Jakarta, Rasa benci, kesal, atau kecewa pada mantan pasangan mungkin dirasakan oleh mereka yang mengalami perceraian. Namun, lebih baik tidak menjelekkan pasangan di depan sang anak.

"Kalau bete sama mantan atau kecewa, upayakan membahasnya dengan orang lain ibarat psikolog, sahabat deket, atau sahabat jangan didepan anak," kata Kristi Poerwandari, hebat psikologi Klinis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ketika ditemui dalam program dalam Diskusi: Bagaimana Menjelaskan Perceraian pada Anak, di gedung Komnas Perempuan, Menteng, Jakarta Pusat.

Hal tersebut menurut Kristi dapat mengganggu emosi sang anak. Anak dapat merasa dirinya ibarat dievaluasi oleh salah satu orang renta yang menjelekkan orang renta lainnya.

"Misalnya ibu menjelekan ayah di depan anak, kemudian anak akan merasa bersalah banget dan membuat anak menjadi bingung," tutur Kristi.

Baca juga: Ini Dampak Psikologis yang Dialami Anak Saat Orang Tua Bercerai

Sementara itu, Denia Putri prameswari, praktisi pendidikan anak usia dini, berpendapat bahwa kondisi tersebut merupakan kompetisi yang terjadi pada kedua orang tua. Hal tersebut untuk membuat anak menjadi lebih nyaman untuk bersama salah satu orang renta saja.

"Sebenarnya itu menjadi naluri dan tujuannya bukan untuk menjelekkan sang mantan. Namun, anak menangkap justru lain misalnya 'oh iyak bapaknya engga bertanggung jawab'," lanjut Denia ketika ditemui dalam program yang sama.

Maka dari itu Denia menyarankan biar orang renta sepakat untuk tidak menjelekkan satu sama lain.

"Saat ibu saya menjelekkan ayah saya, setengah badan saya juga ikut dijelek-jelekin sebaliknya begitu alasannya ialah saya kan produk keduanya. Ibu misalnya jelekin saya berarti beliau menjelekkin saya dan di depan mata saya," tutup Denia.

Baca juga: Begini Cara Membagi Tugas Mengasuh Anak Setelah Perceraian

Komentar